BANDUNG, SudutPublik.Com — Ada banyak kisah tentang guru yang tidak pernah benar-benar kita ketahui. Tentang waktu yang mereka korbankan, perhatian yang mereka curahkan, hingga perjuangan yang sering kali luput dari pandangan. Padahal, di balik setiap anak yang tumbuh dan meraih cita-cita, ada sosok guru yang pernah mengambil bagian dalam perjalanan hidupnya.
Berangkat dari semangat tersebut, Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Jawa Barat membentuk Komite Ra.ha.yu Film. Langkah ini menjadi upaya untuk memperluas jangkauan penayangan film sekaligus menggerakkan masyarakat agar lebih mengenal, memahami, dan menghargai pengabdian para guru.
Ketua DPW GEKRAFS Jawa Barat, Avip Firmansyah, berharap jaringan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GEKRAFS di berbagai kabupaten dan kota dapat terlibat aktif dalam menyukseskan penayangan film Ra.ha.yu melalui kegiatan nonton bareng (nobar).
Gerakan ini tidak sekadar mengajak masyarakat datang ke bioskop. Lebih dari itu, GEKRAFS ingin membuka ruang kolaborasi antara industri kreatif, organisasi guru, sekolah, komunitas pendidikan, dunia usaha, BUMN, BUMD, sektor swasta, dan berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap masa depan pendidikan Indonesia.
Dari Film, Tumbuh Gerakan Apresiasi Guru
Pembentukan Komite Ra.ha.yu Film dibahas dalam Kick-Off Meeting pada Rabu (14/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, Kang Agung Fatwa resmi diangkat sebagai Ketua Komite Ra.ha.yu Film.
Pembentukan komite ini menjadi langkah awal untuk menghubungkan kekuatan industri kreatif dengan gerakan sosial yang lebih luas. Film diharapkan tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium yang mampu menyentuh hati, membuka percakapan, dan menumbuhkan kesadaran bersama.
Ra.ha.yu menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga. Film ini berkisah tentang seorang perempuan muda dari generasi Z yang tengah membangun karier di dunia kreatif, tetapi menyimpan luka terhadap profesi guru sejak masa kecilnya.
Bagi Rahayu, ibunya terlalu banyak mencurahkan waktu dan perhatian kepada murid-murid di sekolah. Di tengah besarnya pengabdian sang ibu kepada orang lain, Rahayu justru merasa kehilangan kedekatan dengan sosok yang paling ia butuhkan.
Konflik antara keluarga, cita-cita, dan luka masa lalu membawa Rahayu pada sebuah perjalanan emosional. Ia perlahan dihadapkan pada kenyataan bahwa jalan yang selama ini ingin dihindarinya justru dapat membawanya memahami sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Melalui perjalanan Rahayu, penonton diajak melihat sisi lain dari kehidupan seorang guru. Bahwa di balik tugas mengajar, ada waktu yang dikorbankan, perhatian yang dibagikan, serta perjuangan yang terkadang tidak sepenuhnya dipahami, bahkan oleh keluarga sendiri.
Menghidupkan Kembali Cerita Kita tentang Guru
Setiap orang memiliki cerita tentang guru. Ada yang mengingat guru yang sabar membimbingnya, ada yang tidak pernah melupakan nasihat sederhana, dan ada pula yang baru menyadari besarnya jasa seorang guru setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah.
Cerita-cerita itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui Ra.ha.yu.
Dengan melibatkan jaringan GEKRAFS se-Jawa Barat dan berbagai pihak, film ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi gerakan apresiasi guru di berbagai daerah. Kegiatan nobar dapat menjadi ruang pertemuan lintas generasi dan lintas sektor untuk berbagi pengalaman, membangun empati, serta memperkuat kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Gerakan ini juga membuka kesempatan bagi komunitas, sekolah, organisasi profesi, dan pelaku usaha untuk mengambil bagian. Sebab, menghargai guru bukan hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah, melainkan kepedulian bersama yang perlu terus dirawat di tengah masyarakat.
Apresiasi tidak selalu harus diwujudkan melalui penghargaan besar. Terkadang, memahami perjuangan mereka, mendengarkan kisahnya, dan mengakui perannya dalam kehidupan kita sudah menjadi langkah berarti.
Ra.ha.yu ingin mengingatkan kita bahwa setiap guru punya cerita, setiap pengabdian layak dihargai, dan setiap anak memiliki kenangan tentang sosok yang pernah mendidiknya.
Tayang 25 November 2026, Bertepatan dengan Hari Guru Nasional
Film Ra.ha.yu dijadwalkan tayang di bioskop pada 25 November 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional.
Momentum ini diharapkan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk merayakan Hari Guru dengan cara yang berbeda: bukan sekadar memberikan ucapan, tetapi juga meluangkan waktu untuk memahami perjuangan mereka melalui sebuah kisah di layar lebar.
Melalui Komite Ra.ha.yu Film, GEKRAFS Jawa Barat mengajak berbagai elemen masyarakat untuk bergerak bersama, memperluas jangkauan film, dan menghadirkan ruang apresiasi bagi para guru di berbagai daerah.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang pelajaran di ruang kelas. Pendidikan juga tentang hubungan manusia, kasih sayang, pengorbanan, dan nilai-nilai kehidupan yang terus tumbuh dari generasi ke generasi.
Dan mungkin, setelah menyaksikan Ra.ha.yu, kita akan teringat pada satu nama guru yang pernah mengubah hidup kita.
Karena setiap kita memiliki kisah dan memori tentang guru. Kini, saatnya kita memberi ruang bagi kisah itu untuk kembali hidup.